Budaya  

Bertabur Seni Tradisi Di Hari Jadi Desa Wadas

KARAWANG | SUARAKARAWANG.COM | Siang selepas ‘lohor’ kembali warga desa Wadas, kecamatan Telukjambe Timur, kabupaten Karawang siap-siap ‘merubung’ halaman kantor desa untuk menonton bahkan terlibat dalam gelar ‘odong-odong’ buah karya warga desa Wadas yang tergabung dalam paguyuban seni Mustika Candrasari dalam sambungan perhelatan Hari Ulang Tahun Desa Wadas ke 39.

Dari rentetan rundown acara. – yang dimulai 01/08/2022 – dan acara kali ini dikuasai para bocah, si penunggang ‘odong-odong’, bergantian per lagu, walau begitu ada saja yang ogah turun dari punggung odong-odong padahal 2 lagu sudah berlalu.

Kang Nanang selaku ‘kukulu’ paguyuban seni Mustika Candrasari, mengatakan, “Acara pentas seni ini dari potensi bakat warga setempat, anak-anak dan remaja sampai orangtua dan diperuntukkan bagi semua warga.” Itu ia mulai sejak 2015. Tidak berlebihan kiranya jika hari ini memetik hasil olah seni serta menampilkannya untuk ‘duduluran’. “Berharap tahun depan, acara pentas seni bakal ‘diedankeun’ lagi.” tambahnya.

Malamnya, acara berlanjut pada penampilan beberapa sekuel Pencak Silat, dari rampak juga perorangan. Plus tari Jaipong; sendra tari, ada pula ‘pencugan’. Para penampil rata-rata anak usia 7 – 13 tahun.

Semakin malam penonton kian penuhi pelataran bahkan pagar kantor desa dan merangsek manakala tiba pada penampilan orang dewasa dengan membawakan seni Debus, atraksi Bambu Gila, Pencak Silat dengan berbagai keahlian “magis”. Ada permainan golok yang dibacokkan pada tubuh, menggesek wajah juga mulut. Ada pula yang menyayat badan dengan silet, mengguyur lengan dengan air keras, menginjak-injak beling, makan gelas, menjilat bara api. Ehm, enak kali ya? Sepertinya berasa gurih juga renyah, namun menegangkan.

Kemudian tampilan seni Calung pun bikin panggung kian marak, riuh dengan tawa manakala para pemain Calung bawakan ‘bodoran’. Beberapa personilnya aparat desa (Wadas) dari RT sampai RW ada juga Kadus. Ini amat tak biasa.

Kepala Desa Wadas Haji Jujun Junaedi dan istri, ibu Hajah Ai Komara juga aktif di panggung di antara ‘nayagan’ menari tipis-tipis sembari ‘nyawer’ tanda apresiate dan memompa semangat para penampil, lebih menghidupkan suasana, lalu diikuti warga lainnya.

Kenapa mengangkat seni Sunda?
“Sebagai orang Sunda harus bangga. Sunda terkandung makna ‘susunan darajat kahirupan manusa’ dan di situ ada budi, daya manusia.” Kata Jujun Junaedi, Lurah 3 periode itu.

“Dan dalam simbol Siliwangi ada ajaran ‘silih asah silih asih silih asuh’ – semuanya bermakna tuntunan.” Pungkasnya.

Kearifan lokal ini berlanjut ke hari sabtu malam 03/09/2022 dengan pagelaran seni Topeng (masih paguyuban seni Mustika Candrasari) dan minggu siang 04/08/2022 diisi acara Mancing Bersama di kali, dengan mencemplungkan ikan mas plus mujair sekitar 3 kwintal.

Sudah dipastikan, acara akan tetap marak, semangat warga tak kan surut lantaran kemelekatan rasa atas “kelahiran-kembali” Desa dimana tempat berpijak, berbagi rasa, membangun kebersamaan, lebih terasa, dan itu tidak sebatas seremonial.

‘Rahayu Sagung Dumadi’. (JunBiull)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *